Sosok Ibu Saya: ‘Single Parent’ Berjuang dengan Canthing Batik

Edisi spesial kali ini bertepatan dengan Hari Ibu. Penulis ingin mengangkat kisah tentang sosok terbesar dan paling berjasa sepanjang hidup kita, Ibu.

Di salah satu sudut selatan Jogjakarta ada satu kampung yang paling terkenal sebagai sentra pengrajin batik tulis asli, namanya ‘Kampung Batik Giriloyo’. Di sana banyak perempuan hebat yang berjuang melestarikan tradisi sekaligus menopang ekonomi keluarga dengan senjata ampuh ‘canthing batik’.

Diantara banyak perempuan hebat pengrajin batik di Kampung Giriloyo ada satu Ibu bersahaja yang sudah berusia lanjut dan paling berpengaruh serta paling berjasa terhadap kehidupan pribadi penulis dan pengelola website ini.

Dialah Ibu Dafiah (65 th) sosok Ibu kandung yang telah membesarkan Said Romli (penulis) dengan penuh kasih sayang dan perjuangan tanpa lelah, tanpa mengeluh, terus membatik melanjutkan kewajiban memenuhi kebutuhan ekonomi seorang diri selama berpuluh-puluh tahun. Beliau harus berjuang sendiri menghidupi keluarga sejak di tinggal Bapak kami saat usia saya baru 2 th, tepatnya di tahun 1985. (Bahkan penulis tidak ingat wajah Bapak).

Puji syukur kepada Allah, melalui tangan Ibu, kakak perempuan saya bisa lulus SMP dan saya sendiri bisa lulus SMA. Suatu perjuangan luar biasa seorang Ibu yang seorang buruh nyanthing batik dapat menyekolahkan dua anaknya sekaligus.

Saya selalu bersyukur bisa tamat SMA. Tidak harus kuliah, karena pendidikan tidak harus selalu di bangku formal. Pendidikan paling baik sebenarnya adalah pengalaman hidup, dan ini menjadi semboyan saya. Maka saya tidak ingin nganggur, segera setelah lulus sekolah pada tahun 2001 saya langsung bekerja, dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya, dan akhirnya pada tahun 2011 memilih berwiraswasta, sedikit ikut meringankan beban Ibu.

Hingga saat ini, saya sudah berkeluarga. Dan Ibu saya masih terus mencanthing batik, beliau tidak ingin hanya sekedar berpangku tangan menikmati hari tua. Bahkan sama sekali beliau tidak ingin merepotkan saya yang sudah berkeluarga. Sungguh, kita harus menitikkan air mata melihat situasi seperti ini. Betapapun perjuangan berat ibu saat membesarkan kita, beliau tidak pernah berharap balasan apapun dari anaknya yang sudah hidup mandiri.

Kita yang seharusnya tahu diri, selama ini kebaikan apa yang sudah kita berikan kepada Ibu kita?

Saat tulisan ini saya buat sekira pukul 9 pagi, Ibu saya sudah membatik dari pagi-pagi tadi, beliau akan duduk seharian mencanthing batik sampai nanti sore sekira jam 16.00. Hanya senggang saat beribadah, makan sekedarnya, dan memejamkan mata yang lelah sejenak karena fisik yang sudah tidak lagi prima di makan usia, lalu bangkit lagi.

Pikiran dan rasa optimisku membuncah. “Kelak, aku akan jadi pengusaha di bidang batik yang paling sukses di seluruh dunia sehingga dapat membahagiakan Ibu dengan ‘senjata’ dan warisan budaya yang sama, Batik!”

Selamat Hari Ibu….

Penulis lahir dan tinggal di Giriloyo, salah satu pengurus Paguyuban Batik Tulis Giriloyo dan mempunyai usaha di bidang cleaning spesialist ‘Zaid Romly & Partner’.

Ibu

Ibu Dafiah 3 tahun yang lalu

Leave a Reply

Your email address will not be published.