History
photo by: KKN UGM 2011
PAGUYUBAN BATIK GIRILOYO
Sebenarnya batik tulis sudah sangat lama ada di kampung Giriloyo. Diwariskan turun temurun beberapa abad yang lalu hingga saat sekarang. Tidak ada yang menulis secara eksplisit kapan tepatnya batik masuk ke daerah terpencil ini serta siapakah yang membawa warisan kekayaan budaya tersebut. Yang jelas, batik sudah sangat mendarah daging di kampung ini.
Hampir bisa dikatakan setiap keluarga dikampung ini ada yang menekuni kerajinan batik sebagai sumber mata pencaharian, bahkan kebanyakan menjadikannya sebagai sumber penopang utama ekonomi keluarga. Meski bisa dikatakan, karena kebanyakan mereka hanyalah sebagai buruh, batik belum mampu mengangkat ekonomi mereka menjadi lebih baik.
Masih banyak buruh batik yang belum mampu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga dari hasil bekerja menjadi buruh penulis batik. Walaupun mereka selalu menghabiskan waktu seharian penuh untuk menggoreskan canthing ke kain mori. Kehidupan mereka belum banyak berubah, mereka masih menjadi buruh penulis batik yang harus rela menghabiskan usia mereka untuk mewarisi tradisi batik.
Tidak jarang mereka harus menjual sendiri hasil batik tulis mereka ke kota, ke juragan-juragan batik besar di sekitar pasar ngasem dekat istana Yogyakarta atau di pasar tertua Bringharjo. Meski waktu dulu selama bertahun-tahun mereka harus mengayuh sepeda sejauh 20 km, dan beberapa tahun kemudian mungkin sedikit lebih baik menggunakan kendaraan umum bus yang sebenarnya ongkos yang dikeluarkan harus banyak mengurangi keuntungan penjualan batik mereka yang sedikit.
Sampai pada bulan Mei 2006, gempa besar benar benar memporak-porandakan Yogyakarta, merenggut ribuan nyawa, menghancurkan ribuan rumah dan bangunan infrastruktur dan melumpuhkan kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk daerah perkampungan batik tradisional ini. Karena memang pusat gempa bumi waktu itu tidak terlalu jauh dari kampung ini. Batik di desa ini hampir terkubur dalam arti yang sebenarnya. Karena gempa susulan terus menerus terjadi, meskipun skalanya relatif kecil tetaplah membuat kecemasan dan kebingungan di masyarakat. Di tengah situasi yang demikian masyarakat tetap berjuang bangkit dan berusaha untuk menggerakkan roda ekonomi. Dan batik-lah yang pertama mereka pikirkan sebagai tumpuan ekonomi selama ini. Maka batik di kampung ini harus segera di hidupkan kembali.
Lantas setelah beberapa bulan, berdirilah kelompok-kelompok batik yang menjadi inisiatif beberapa LSM bersama masyarakat yang peduli terhadap warisan budaya yang sekaligus menjadi penopang utama ekonomi masyarakat.
Kelompok-kelompok tersebut pada awalnya berjalan sendiri-sendiri dan belum mempunyai kesamaan visi yang jelas. Belum mempunyai kesamaan strategi bagaimana membangkitkan kembali batik yang hampir terkubur oleh tragedi bencana dahsyat gempa bumi menjadi kekuatan ekonomi yang menjual. Dan sebisa mugkin mengubah kehidupan banyak buruh batik di kampung yang sejak dulu dikenal sebagai penghasil batik : kampung Giriloyo.
Kemudian berdirilah Paguyuban Batik Giriloyo yang menjadi media penting untuk membangun kekuatan para kelompok pengrajin batik. Sekitar 7 kelompok bergabung pada awalnya, kemudian mulai bertambah seiring meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat akan keuntungan yang bisa diperoleh ketika bergabung dalam satu kelompok.
Berdiri awal mei 2008, paguyuban batik Giriloyo menjadi wadah tempat berkumpul dan bermusyawarah para pengrajin batik. Mereka merencanakan kegiatan-kegiatan untuk keuntungan bersama secara matang kemudian merealisasikannya. Sehingga tak beberapa lama kemudian, kemajuan-demi kemajuan mulai diterlihat. Indikasinya, penjualan batik semakin meningkat, kunjungan tamu-tamu penting semakin sering, wisatawan lokal dan mancanegara banyak berkunjung, paket wisata batik yang semakin diminati, pagelaran expo tiap tahun.
Meski begitu, Paguyuban Batik Giriloyo belum mempunyai alamat website resmi sebagai media promosi di dunia maya, sejauh ini hanya mengandalkan promosi konvensional “dari mulut ke mulut” orang ke orang di dunia nyata. Sehingga apabila hal ini tidak disingkapi dengan cepat, batik Giriloyo yang notabene adalah sentranya batik tulis asli di Yogyakarta akan kalah bersaing dan tenggelam oleh gelombang internet. Yang pada dasawarsa terakhir telah menjadi raksasa teknologi yang paling cepat dalam hal penyampaian informasi.
Untuk mengantisipasi hal itulah maka pada tanggal 12 Agustus 2011 pemuda Giriloyo bersama KKN UGM 2011 mempunyai inisiatif membagun sebuah situs resmi untuk Paguyuban Batik Giriloyo dengan tujuan mempromosikan warisan budaya Batik Giriloyo ke seluruh dunia melalui jagad online dengan domain :www.batikgiriloyo.com.
Semoga dengan launching situs resmi ini dapat menjadi batu pijakan bagi para pengrajin batik untuk berpromosi memperkenalkan produk dan meningkatkan penjualan ke seluruh dunia atau sering kita menyebut Go International. Sehingga dapat meningkatkan kehidupan ekonomi seluruh masyarakat.

